Selamat datang di Website KOPI OEY. Koffie Mantep, Beritanja Djoedjoer.

Menyambut Purnama di Kopitiam Oey Sentul

“ Memperkenalkan Nyawang Bulan”

 

Bukalah hati. Terimalah getar suara Tarawangsa. Rasakan kenikmatan yang mengelus rasa. Ikuti suara hati. Jangan lawan jika hati mengajak ibu-ibu dan bapak-bapak untuk bergerak. Menari diiringi alat musik Tarawangsa. Resapi pula suara jentreng yang menemani Tarawangsa.

Getar suara Tarawangsa hanya satu dari sekian banyak pementasan di Kopitiam Oey, Sentul di Taman Budaya, Sabtu malam (5/5).

Minggu malam Sanggar Seni Karang Kamulyan dari Karang Kamulyan, Desa Paku Tandang, Ciparay, Kabupaten Bandung akan berupaya memperkenalkan persembahan khusus. Khusus karena hanya diperuntukan kepada pelanggan setia KTO Sentul. Khusus karena pentas kali ini ingin memperkenalkan suatu konsep pementasan yang biasanya dipentaskan saat Bulan Purnama. Nyawang Bulan, demikian orang Sunda sering menyebutnya.

Menjelang tengah malam, di bawah sapuan sinar Bulan yang terasa teduh, di masa lalu, suara kecapi, suling, tarawangsa dan berbagai instrumen lain dimainkan. Tentu saja beberapa pupuh atau tembang lawas diperdengarkan. Semuanya menyatu dalam suatu tujuan tunggal. Ucapan terima-kasih kepada Sang Maha Kasih atas semua kesehatan, keselamatan dan rezeki yang telah kita terima. Ucap syukur punya getar berbeda saat dibawakan di bawah sinar Purnama. Saat itu biasanya semua peserta Nyawang Bulan diajak mensyukuri keagungan sang Maha Agung yang menciptakan Bulan dengan sinarnya yang indah.

Malam Minggu ini, memang belum saatnya Purnama. Tapi lewat rangkaian pementasan yang dipersiapkan khusus oleh Bapak Ugan Rahayu dan Ibu Neni Hayati, pelanggan Kopitiam Oey yang hadir di Sentul pasti akan mendapat tontonan istimewa.

Tari Maung Lugay, sudah siaga. Tari yang secara sederhana berarti gerak harimau, sejatinya mengandung makna dalam. Maung di sini tidak hanya berarti harimau. Maung bermakan manusa utama. Manusia utama. Manusia yang sadar pada kemananusiaannya. Gerakan lincah khas harimau akan dibawakan penari Pramayuda, Siswa SD Merdeka Bandung.

Jangan bergerak dulu. Ada dialoh kendang yang akan dibawakan para belia dari Ciparay. Penuh semangat. Kompak. Indah.

Tembang Dandanggula Kawali yang diiringi gesekan rebab,kecapi dan suling akan tampil khusus menjelang tengah malam. Tembang ini dikenal di Pulau Jawa dan Bali di masa lalu dengan judul yang berbeda.

WONTEN KIDUNG RUMEKSAHING WENGI
TEGUH AYU LUPUTAHING LARA
LUPUTA BILAHI KABEH
JIN SETAN BOTEN PURUN
PANELUHAN TAN ANA WANI

Demikian penggalan tembang yang sejatinya doa dan harapan agar semua yang berkumpul di Kopitiam Oey Sentul tetap selamat dan sejahtera menghadapi berbagai masalahnya masing-masing.

Instrumen karinding juga sudah bersiap. Belum lagi Rajah yang sakral bagi sebagian masyarakat. Dan berbagai tari serta tembang lainnya.

Sila dan datang ke Kopitiam Oey Sentul. Bersiaplah menyaksikan pentas istimewa yang akan dibawakan 36 anggota tim kesenian dari Ciparay, Kabupaten Bandung. Sambil menikmati minuman dan makanan khas Kopitiam Oey, tentunya.

Sampai jumpa.

Bolenja beritahoe teman-teman :

Categorized: Warta Setroom